Kearifan Lokal

Masyarakat di dusun dasan Beleq melandaskan kehidupannya pada dua hal: agama dan adat. Keduanya tidak bisa dipisahkan, sebab agama berlandaskan adat, adat berlandaskan agama. Agama dan adat tidak bertentangan. Tidak ada adat, tidak ada agama. Tidak ada agama, tidak ada adat. Adat berarti tata cara. Misalnya, sebelum orang menunaikan salat, orang wajib mengambil wudhu. Itulah adat, sebuah tata cara, aturan yang mengatur bagaimana seharusnya hidup dijalankan.

Dalam memandang dunia yang dihidupinya, masyarakat adat di dusun dasan Beleq mempunyai suatu pandangan tentang segala sesuatu yang ada, yakni Wektu Telu dan Metu Telu. Wektu Telu secara umum sering diartikan sebagai tiga waktu salat. Namun, di dusun dasan Beleq, Wektu Telu tidak berarti seperti itu. Orang muslim di dusun dasan Beleq menunaikan salat wajib sebagaimana muslim di manapun, lima kali. Wektu Telu adalah bagian-bagian dunia yang tersusun atas tiga hal: bumi, alam, dan langit. Metu Telu artinya segala sesuatu yang dapat mengisi dunia, yakni tiga hal: lahir, bertelur, dan bertunas. Segala makhluk yang ada di muka bumi ada karena tiga hal tersebut.

Di dusun dasan Beleq, masyarakatnya memegang teguh arti kerahasiaan, atau disebut juga sesepen. Sesepen adalah sesuatu yang dirahasiakan. Masyarakat adat di dusun dasan Beleq memegang rahasia-rahasia yang tidak boleh diungkapkan ke orang luar. Masyarakat adat di sini memandang bahwa orang tidak boleh mengungkapkan keseluruhan dirinya kepada orang lain. Orang tidak boleh telanjang. Setiap orang memiliki hal-hal yang tidak diperlihatkan kepada orang lain. Misalnya, orang tidak memperlihatkan kemaluannya di muka umum. Seperti itulah pandangan masyarakat di dusun dasan Beleq. Ada hal-hal yang tidak boleh diketahui umum, sebab tidak semua hal harus diperlihatkan dan diungkapkan.